Senin, 04 Agustus 2008

mencari harga pokok produksi

Laporan yang disajikan dalam akuntansi biaya juga dapat digunakan sebagai alat untuk membandingkan hasil yang dicapai dengan standard dari budget yang dibuat sebelumnya. Hal ini dapat berhasil apabila pengawasan terhadap biaya dilakukan dengan perencanaan biaya yang tepat dalam setiap kegiatan, sehingga kegagalan-kegagalan atau kurang efisiennya suatu pekerjaan dapat dihindari

Menurut Mulyadi:

Akuntansi biaya merupakan proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya (Mulyadi, 2002 : 6)

Pendapat mengenai akuntansi biaya menurut Supriyono,adalah

Alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya (Supriyono, 1999 : 12).

Menurut Abdul Halim, Akuntansi Biaya adalah

Akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok (cost) dari “ sesuatu produk “ yang diproduksi (atau dijual di pasar) baik untuk memenuhi pesanan dari pemesan maupun untuk menjadi persediaan barang dagangan yang akan dijual (Halim, 1996 : 3)

Berdasarkan definisi–definisi di atas, maka penulis menarik kesimpulan bahwa akuntansi biaya sangat penting artinya bagi manajemen dalam mengelola perusahaan yang mereka pimpin, sebab akuntansi biaya merupakan alat untuk pengawasan dan bila mungkin menekan biaya produksi yang bertujuan untuk menentukan harga pokok produksi barang/jasa secara teliti dalam suatu periode tertentu.

Beberapa tujuan lain dari akuntansi biaya, adalah :

1. Pengendalian biaya, akuntansi biaya menyajikan informasi biaya yang diperkirakan akan terjadi dengan biaya yang sesungguhnya terjadi dan kemudian menyajikan analisis terhadap penyimpangannya.

2. Pengambilan keputusan khusus, akuntansi biaya menyajikan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan di ambil dan biaya yang relevan ini selalu berhubungan dengan biaya masa yang akan datang (Mulyadi, 2002 : 24).

Akuntansi Biaya dapat mencapai tujuan tentang penentuan harga pokok produk, maka akuntansi biaya mencatat, menggolongkan, dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya-biaya yang dikumpulkan disajikan adalah biaya-biaya yang telah terjadi pada masa lalu atau biaya historis. Umumnya akuntansi biaya untuk penentuan harga pokok produk ini untuk memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan. Oleh karena itu, untuk melayani kebutuhan pihak luar tersebut, akuntansi biaya untuk penentuan harga pokok produk tunduk pada prinsip-prinsip akuntansi yang yang lazim.

1. Pengertian Biaya

Perusahaan dalam melakukan aktivitasnya tidak bisa lepas dari pengorbanan sumber-sumber ekonomis atau alat-alat produksi untuk menghasilkan produk-produk yang diinginkan.

Bagi perusahaan yang bergerak di bidang produksi, istilah biaya sangat penting artinya, sebab biaya harus relevan dengan proses produksi yang sedang dibiayainya. Pada dasarnya biaya diukur dengan nilai sekarang dari sumber-sumber ekonomi yang dikorbankan untuk memperoleh barang atau jasa yang akan dipergunakan dalam aktivitas perusahaan. Barang atau jasa yang dikorbankan merupakan pengurangan atas harta atau dibebankan sebagai hutang pada saat barang atau jasa itu diperoleh.

Beberapa ahli akuntansi berpendapat mengenai pengertian biaya seperti yang dikemukakan di bawah ini :

Menurut Mulyadi :

Biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang di ukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Sedangkan biaya dalam arti sempit adalah pengorbanan sumber ekonomis untuk memeperoleh aktiva atau dalam istilah lain disebut dengan harga pokok (Mulyadi, 2002 : 8).

Menurut Harnanto dan Zulkifli, pengertian biaya adalah

Jasa atau manfaat suatu sumber ekonomi yang telah digunakan atau dilkeluarkan dalam rangka menciptakan pendapatan yang merupakan tujuan setiap unit usaha (Harnanto & Zulkifli, 2003 : 15).

Akuntansi Biaya memerlukan sebuah konsep dan terminologi untuk dasar pembahasan akuntansi biaya dengan tujuan supaya dapat dipakai pedoman di dalam penyusunan laporan biaya. Beberapa konsep dan terminologi tersebut adalah :

1) Harga Perolehan atau harga Pokok (Cost)

Harga perolehan atau harga pokok adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang, dalam bentuk :

- Kas yang dibayarkan , atau

- Nialai aktiva lainnya yang diserahkan / dikorbankan ,atau

- Nilai jasa yang diserahkan/dikorbankan, atau

- Hutang yang timbul, atau

- Tambahan modal

Dalam rangka pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan , baik pada masa lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa yang akan datang (harga perolehan yang akan terjadi).

2) Biaya (expenses)

Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenue) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan .Biaya digolongkan ke dalam harga pokok penjualan, biaya penjualan, biaya administrasi dan umum, biaya bunga dan biaya pajak perseroan.

3) Penghasilan (Revenues)

Penghasilan adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang dalam bentuk :

- Kas yang diterima, atau

- Piutang yang timbul, atau

- Nilai aktiva lainnya yang diterima ,atau

- Nilai jasa yang diterima, atau

- Pengurangan hutang, atau

- Pengurangan modal

- Dalam rangka penjualan barang dagangan , produk atau jasa yang dilakukan oleh perusahaan kepada pihak lain.

4) Rugi dan laba (Profit and loss)

Rugi dan laba adalah hasil dari proses mempertemukan secara wajar antara semua penghasilan dengan semua biaya dalam periode akuntansi yang sama. Apabila semua penghasilan lebih besar dibanding biaya , maka selisihnya adalah laba bersih.Apabila penghasilan lebih kecil dibandingkan dengan semua biaya, selisihnya rugi bersih.

5) Rugi (Losses)

Rugi adalah berkurangnya aktiva atau kekayaan perusahaan yang bukan pengambilan modal oleh pemilik, di mana tidak ada manfaat uyang diperoleh dari berkurangnya aktiva.

(Supriyono, 1999 : 16)

2. Penggolongan Biaya Produksi

Penggolongan adalah proses mengelompokkan secara sitematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan ternetu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi lebih punya arti atau lebih penting.

Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang akan digunakan untuk berbagai tujuan, dalam menggolongkan biaya harus disesuaikan dengan tujuan dari informasi biaya yang akan disajikan. Oleh karena itu dalam penggolongan biaya tergantung untuk apa biaya tersebut digolongkan, untuk tujan yang berbeda diperlukan cara penggolongan yang berbeda pula, atau tidak ada satu cara penggolongan biaya yang dapat dipakai untuk semua tujuan menyajikan informasi biaya.

Penggolongan biaya menurut fungsi pokok perusahaan ada empat fungsi yang utama, yaitu ;

a) fungsi produksi, adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesaiyang siap untuk dijual

b) fungsi pemasaran, adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penjualan produk selesai yang siap dijual dengan cara yang memuaskan pembeli dan dapat memperoleh laba sesuai yang diinginkan perusahaan samapai dengan pengumpulan kas dari hasil penjualan.

c) fungsi administrasi dan umum, adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penentuan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien). Kegiatan fungsi ini berhubungan dengan fungsi pokok perusahaan yang lain, tetapi manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan langsung pada fungsi lain tersebut.

d) fungsi keuangan, adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan keuangan atau penyediaan dana yang diperlukan perusahaan. Fungsi ini tidak begitu penting, jika dana yang ada dalam perusahaan telah dapat terpenuhi.

(Supriyono, 1999 : 18)

Atas dasar fungsi tersebut di atas, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok biaya, yaitu :

1. Biaya produksi

Pengertian biaya produksi menurut Supriyono adalah ” semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai ” (Supriyono, 1999 : 19)

Menurut Abdul Halim, pengertian biaya produksi adalah :

Biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan produksi dari suatu produk dan akan dipertemukan (dimatch-kan) dengan penghasilan (revenue) di periode mana produk itu dijual (Halim, 1999 : 5)

Kegiatan ekonomi yang dilakukan secara individu terutama kegiatan produksi rumah tangga, secara eksplisit tentu saja memerlukan biaya produksi, dalam hal ini mencerminkan pengeluaran nyata (aktual) yang dikeluarkan untuk memperoleh input.

Secara garis besar, biaya produksi dibagi menjadi tiga, yaitu : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.

a. Biaya Bahan Baku (material cost)

Biaya ini sering disebut dengan istilah biaya utama (prime cost). Bahan baku merupakan bahan yang membantu bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku dapat diproduksi sendiri maupun diperoleh dari pembelian. Di dalam memperoleh bahan baku pengusaha tidak hanya mengeluarkan biaya sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan ongkos transportasi

Menurut prinsip akuntansi yang lazim, semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk menempatkan dalam keadaan siap untuk diproduksi, merupakan unsur harga pokok bahan baku yang dibeli. Harga pokok bahan baku tersebut terdiri dari harga beli ditambah dengan biaya–biaya pembelian dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku sampai dalam keadaan siap untuk diolah (Mulyadi, 2002 : 301).

Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi yang terdiri dari dua macam, yaitu bahan baku langsung (direct material) dan bahan baku tidak langsung (indirect material). Bahan baku langsung adalah bahan baku yang secara langsung berperan dalam proses produksi dan mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah produk yang dihasilkan. Bahan baku tidak langsung adalah bahan baku yang secara tidak langsung ikut berperan dalam proses produksi.

Anggaran bahan baku merencanakan kebutuhan dan penggunaan bahan baku langsung, sedangkan kebutuhan bahan baku tidak langsung akan direncanakan dalam anggaran biaya overhead pabrik.

Berdasarkan uraian diatas, bahwa anggaran bahan baku adalah semua anggaran yang berhubungan dengan perencanaan secara lebih terperinci mengenai penggunaan bahan baku untuk proses produksi selama periode yang akan datang.

b. Biaya Tenaga Kerja

Seperti halnya bahan baku, tenaga kerja yang bekerja di pabrik juga dikelompokkan menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.

Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung berperan dalam proses produksi. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang secara tidak langsung berperan dalam proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya overhead pabrik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anggaran tenaga kerja adalah anggaran yang merencanakan secara terperinci tentang upah yang akan dibayarkan kepada tenaga kerja meliputi rencana tentang jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu periode produksi, tarif upah dan waktu (kapan) pengerjaannya.

Anggaran biaya tenaga kerja langsung merupakan bagian dari anggaran tenaga kerja yang secara terperinci akan memuat :

a. Jumlah barang yang diproduksi

b. Jumlah produksi yang dihasilkan

c. Bagian-bagian yang dilalui dalam proses produksi

d. Jumlah jam / hari tenaga kerja langsung setiap produksi

e. Tingkat upah rata-rata per jam/hari tenaga kerja langsung.

f. Waktu kapan upah rata-rata per jam/hari tenaga kerja langsung.

Biaya tenaga kerja merupakan salah satu dari biaya konversi, di samping biaya overhead pabrik. Yang merupakan salah satu biaya untuk mengubah bahan baku manjadi produk jasa. Sebelum lebih lanjut perlu dipahami batasan biaya tenaga kerja dan cara penggolongannya. ” tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut ”. (Mulyadi , 2002 : 343)

Biaya tenaga kerja untuk tujuan akuntansi di bagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu :

1) Biaya tenaga kerja langsung (direct labor), adalah balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik yang manfaatnya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan.

2) Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor), adalah balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik, akan tetapi manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan atau diikuti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan.

c. Biaya Overhead Pabrik (factory Overhead).

Biaya-biaya yang secara tidak langsung ikut berperan dalam proses produksi dimasukkan (dikelompokkan) ke dalam biaya overhead pabrik.

Biaya overhead pabrik (factory overhead cost) adalah biaya–biaya dalam pabrik yang dikeluarkan sehubungan dengan proses produksi, kecuali bahan baku langsung, dan biaya tenaga kerja langsung. Oleh karena terlalu banyaknya jenis biaya yang muncul dalam operasional pabrik, maka diperlukan perhatian khusus. Sedangkan anggaran biaya overhead pabrik adalah suatu perencanaan yang terperinci mengenai biaya-biaya tidak langsung yang dikeluarkan sehubungan dengan proses produksi selama periode yang akan datang. Terlalu besarnya biaya overhead pabrik akan memperngaruhi tingkat keuntungan yang akan diperoleh.

Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik menurut sifatnya dikelompokkan menjadi beberapa golongan, antara lain :

- Biaya bahan penolong

- Biaya tenaga kerja tidak langsung

- Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva

- Biaya yang yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu

- Biaya overhead lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai (Mulyadi, 2002 : 208).

2. Biaya Pemasaran

Menurut Supriyono, “Biaya pemasaran adalah biaya dalam rangka penjualan

produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas” (Supriyono, 1999 : 21).

Biaya pemasaran meliputi biaya untuk melaksanakan fungsi penjualan, fungsi penggudangan produk selesai, fungsi pengepakan dan pengiriman, fungsi advertensi, fungsi pemberian kredit dan pengumpulan piutang, dan fungsi pembuatan faktur atau administrasi penjualan.

3. Biaya administrasi dan umum

Biaya administrasi dan umum ini terjadi dalam rangka penentuan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengwasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan. Termasuk dalam biaya ini gaji pimpinan tertinggi perusahaan, personalia, sekretariat, akuntansi, hubungan masyarakat, keamanan dan sebagainya.

1. Pengertian Harga pokok Produksi

Harga Pokok adalah gambaran kuantitatif pengorbanan yang harus dilakukan oleh produsen pada waktu terjadinya pertukaran barang-barang atau jasa–jasa yang ditawarkannya di pasar (Winardi, 2000 : 249).

Perhitungan harga pokok produksi di mulai dengan menjumlahkan biaya-biaya produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, buruh langsung / tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, sehingga diperoleh total biaya yang dibebankan pada pekerjaan pada setiap periode.

Seperti yang telah dibahas di atas, bahwa untuk menghitung harga pokok secara tepat dan teliti, maka biaya yang harus dikeluarkan harus diklasifikasikan menurut aliran–aliran biaya itu sendiri. Di dalam akuntansi yang konvensional komponen harga pokok terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

Perhitungan biaya produksi dan perhitungan harga pokok produk dalam proses supaya bisa dianalisis kegiatannya selama periode tertentu, maka harus disusun laporan biaya produksi yang biasanya di bagi menjadi 3 (tiga) bagian :

a) Data produksi

Berisi jumlah produk dalam proses pada awal periode, jumlah produk yang telah diolah selama periode tertentu, jumlah produk selesai ditransfer ke gudang, dan produk yang masih dalam proses pada akhir periode dengan tingkat penyelesaian tertentu.

b) Biaya yang dibebankan

Memperhatikan biaya-biaya produksi yang terjadi atau yang dikeluarkan selama periode tertentu. Dalam bagian ini disajikan biaya total dan biaya pemantauan tiap-tiap elemen biaya produksi.

c) Perhitungan biaya

Memperhatikan perhitungan harga produk selesai yang ditransfer ke gudang dan biaya produk dalam proses pada akhir periode.

(Mulyadi, 2002 : 189)

Harga pokok proses merupakan cara penentuan harga pokok produk dimana biaya produksi dibebankan kepada proses selama periode tertentu. Dalam metode ini tidak ada pembedaan antara biaya langsung dan biaya tidak langsung, sedangkan biaya overhead pabrik terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan atau yang terjadi didalam proses produksi yang secara tidak langsung ikut dalam membuat barang jadi, yaitu selain biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya tenaga kerja tidak langsung.

2. Metode pengumpulan harga pokok produksi

Pembuatan suatu produk mempunyai dua kelompok biaya, yaitu biaya produksi dan biaya non produksi. Biaya produksi merupakan biaya–biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk, sedangkan biaya non produksi merupakan biaya–biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan non produksi, seperti kegiatan pemasaran dan kegiatan administrasi dan umum. Biaya produksi membentuk harga pokok produksi, yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk jadi dan harga pokok produk yang pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Biaya non produksi ditambahkan pada harga pokok produksi untuk menghitung total harga pokok produk.

Pengumpulan harga pokok produksi sangat ditentukan oleh cara produksi, menurut Mulyadi, secara garis besar cara memproduksi produk dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Produksi atas dasar pesanan

perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan, mengumpulkan harga pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan (job order cost method).Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per satuan produk yang dihasilkan untuk memenuhi pesanan tersebut dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan.

2. Produksi massa

Perusahaan yang berproduksi massa, mengumpulkan harga pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok proses (process cost method).Dalam hal ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk periode tertentu dan harga pokok produksi per satuan produk yang dihasilkan dalam periode tersebut dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk periode tersebut dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan (Mulyadi, 2002 : 18)

Berdasarkan pengertian dari kedua metode penentuan harga pokok produksi tersebut, dapat digambarkan perbedaan karakteristik antara keduanya seperti dalam tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1.

Perbedaan antara Harga Pokok Pesanan dan Harga Pokok Proses

Segi Perbedaan

Metode Harga pokok Pesanan

Metode Harga Pokok Proses

Dasar kegiatan produksi

Pesanan langganan

Budget produksi

Tujuan produksi

Untuk melayani pesanan

Untuk persediaan yang akan dijual

Bentuk produk

Tergantung spesifikasi pemesan dan dapat dipisahkan identitasnya

Homogin dan standar

Biaya produksi dikumpulkan

Setiap pesanan

Setiap satuan waktu

Kapan biaya produksi dihitung

Pada saat suatu pesanan selesai

Pada akhir periode/satuan waktu

Menghitung harga pokok

Harga pokok pesanan tertentu

Harga pokok periode tertentu

Jumlah produk pesanan yang bersangkutan

Jumlah produk periode yang bersangkutan

Contoh perusahaan

Percetakan, kontraktor, konsultan, kantor akuntan

Semen, kertas, tekstil, petrokimia, air minum

3. Metode Perhitungan Harga Pokok produksi

Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan , yaitu pendekatan full costing dan pendekatan variable costing.

1) Full Costing

Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku variabel maupun tetap.

Harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari unsur harga pokok produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik tetap) ditambah dengan biaya nonproduksi (biaya pemasaran, biaya adminisrtrasi dan umum).

2) Variable Costing

Variable costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku , biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.

Harga produk yang dihitung dengan pendekatan variable costing terdiri dari unsur harga pokok produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel) di tambah dengan biaya nonproduksi variabel (biaya pemasaran variabel dan baiaya administrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum tetap ).

(Mulyadi, 2002 : 18).

1 komentar:

balimalang mengatakan...

MAKASI TULISANNYA OM...